Wednesday, 27 February 2019

Bahaya Fanatisme Buta

    


Sesuatu yg terlahir dari yg buruk, maka ia akan buruk pula, sebelum ada tanda-tanda tentang kebaikannya.
    Sabaiyyah adalah kelompok di luar Islam. Dan ini ada konsensus para Ulama. Bahkan, Syi'ah sendiri mengatakan mereka bukan bagian darinya. Namun, utk mengenal Syi'ah kita harus meranut dari akar sejarah Sabaiyyah ini.
    Dalam segala linea(pemikiran, perbuatan dan perkataan), Syi'ah identik dengan extrem. Extrem ini berawal dari cinta palsu yg over dosis di padukan dengan benci sampai mati, yg melahirkan ideologi-ideologi sempalan di luar pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah.
   Terkait fanatisme buta ini, tidak ada perbedaan antara Wahabi Salafi dan Syi'ah. Syi'ah karena fanatisme butanya hingga menabikan Sayyidina Ali, bahkan menuhankannya. Begitu juga Salafi Wahabi, karena fanatisme butanya juga hingga melihat kebenaran hanya ada pada pemimpinnya.
    Munculnya Syi'ah berawal dari kekacauan kondisi ummat islam di paruh kedua periode Khalifah Usman. Kondisi ini dimanfaatkan oleh musuh islam yg datang dari Yaman yaitu si Ibn Saba, yg keberadaannya kini telah didistorsikan oleh sebagian mereka guna menutupi kedoknya.
    Namun, berbagai sumber terpercaya dari berbagai sekte mencatat bahwa Ibnu Saba itu ada dan tidak misterius.
    Abdullah bin Saba inilah yg mempropaganda muslim kala itu lewat penanaman cinta palsu kpd Ali KW dan benci kpd Usman RA, hingga mengkudekatan khalifah Usman sampai terbunuhnya beliau.
    Kelompok Sabaiyyah inilah yg melahirkan Syi'ah sekte lain hingga hari ini. Sehingga, ideologi mereka tidak jauh berbeda. Teologi mereka (syi'ah) merupakan copy paste dari teologi yahudi. Karena memang Ibn Saba adalah Yahudi yg masuk islam pada periode Khalifah Usman, tapi dia adalah seorang munafik.
    Dari sini lah Syi'ah terlahir. Maka, sangat sulit utk dapat diterima jika mereka mengembor-gemborkan persaudaraan dan persatuan. Sesungguhnya, itu hanya trik menarik simpati dan memposisikan diri saja.

Saturday, 15 July 2017

ABU SEURIGET





Memories of Abu Seuriget


 He is Syaikh Muhammad bin Usman, he known as Abu Seuriget, Langsa. He was passed away on July 11, 2017 at 03. 40 WIB.

Regarding on his own notebook in Marbawi Dictionary, he was born on 1934 and transmigrate to Seuriget Village, Langsa on 1982. he married to Ummi Rassuna binti Abdul Ghani, a girl from Sumbok Rayek , Nibong at North Aceh. In his marriage  he has 7 children, 3 daughters and 4 sons.

before he transmigrate to Langsa, he lives in Panton Labu. all o his children was born in there except 2 o them was born in Langsa.

He is teacher of Abu Ibrahim  bin Bardan Panton Labu  when Abu Panton was studying at Idi.

Abu Seuriget is very well mannered Ulama, philanthropist  and did not like to have argue. Once, there is someone who has different opinion from him about Taraweeh Shalah 8 rakaah and haram samadiah , he has never argue and forbidden that. He continuously doing his deeds following his belief until then that person who has different opinion come back as him.

Often a student at traditional school as known as santri in muslim asked his permission to go back home to earn some fees for their study, at the end did not go home as Abu Seuriget gave them alms(sedekaah) while say salaam to take leave.

A lots of student asked kitab( books for muslim guidance), after taught them he gave pocket money without any consideration to see and count them.

He is gone.... He passed away....

Allahummaghfirlahu warhamhu waj'alil jannata maswana wa maswahu.



Essential of Short Tausiyah Abakha Murdani , Son of Him. After Shalah Maghrib  yesterday and regarding history from former teacher at Dayah Fatuhul Ma'arif

Tuesday, 13 June 2017

Santri Aceh bersafari ke Luar Negeri

Ditengah, Tgk Machsalmina (rida' putih) dan Tgk Mustafa Kamal (rida' coklat) bersama masyarakat melayu


KUALA LUMPUR - Sebagaimana diketahui, dalam bulan Ramadhan kegiatan belajar mengajar di dayah di Aceh diliburkan. Semua santri dibolehkan pulang ke kampung dengan serangkaian acara selama ramadhan untuk bersilaturrahmi dengan masyarakat.
Di Kecamatan Dewantara, ikatan santri itu dibangun dalam ikatan yang disingkat dengan HISADA (Himpunan Santri Dewantara), dan di Lhoksukon dengan singkatan KALAM (Kesatuan Aneuk Lhoksukon Antar Ma'had).

Dua santri dari dua ikatan tersebut pada ramadhan ini bersilaturrahmi ke Malaysia. Pada malam ini (12/6/2017) bertepatan dengan 18 Ramadhan 1438H mereka dijadwalkan di Rawang, Kuala Lumpur, tepatnya di Surau Padang desa Sungai Choh.

"Alhamdulillah, masyarakat melayu menerima kita santri Aceh, kita dibolehkan menjadi imam solat tarawih dan dipercayakan memimpin bacaan tahlilan untuk arwah yang rutin dilakukan setiap malam di surau-surau di Kuala Lumpur". Jelas Tgk Machsalmina dari ikatan KALAM Lhoksukon.

Beliau melanjutkan, pada malam ini memang tidak ada taushiyah, namun di lain kesempatan mereka dijadwalkan kembali mengisi taushiyah.

Tgk Mustafa Kamal dari ikatan HISADA, beliau bertindak sebagai imam solat isya dan taraweh pada malam ini.

" Alhamdulillah lancar, tidak ada perbedaan signifikan antara Aceh dan Malaysia, bacaan selawat disela-sela itu pun mirip. Beda cara makmum jawab aja" ujar Tgk Mus kepada qaryatulhuda.com.

Selanjutnya, mereka akan mengisi taushiyah dan menjadi imam di Klang, Meru (proses) dan Kuantan, Pahang. Juga, melalui Dato' Mansyur Usman, mereka akan dipertemukan dengan Syeikh Abdul Karim dari Mekkah yang menjadi imam di beberapa mesjid di Kuala Lumpur tahun ini. (zuki)

Enter your email address:

Author-rights® by: QH

Baca Kami Juga

Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks
notifikasi
close