Sunday, 15 January 2017

Mu'tazilah





    Firqah Mu'tazilah disebut juga sebagai Ahl al-'Adl wa at-Tauhid. Mereka dikenal dengan sebutan kaum Qadariyah dan 'Adliyah.
Akan tetapi, mereka sendiri berpendapat bahwa sebutan "Qadariyah" itu mubham (tidak jelas bagi mereka/tidak diterima oleh mereka), dan mereka mengatakan bahwa gelar tersebut seyogyanya diberikan bukan kepada mereka, melainkan kepada orang-orang yang mempercayai bahwa qadar (determination) yang bersangkut-paut dengan perkara baik dan buruk adalah sudah ditetapkan dari dan oleh Allah. 

    Dengan penolakan gelar tersebut, kaum Mu'tazilah berusaha untuk menghindarkan diri dari noda (ignominy) yang sudah umum dibebankan kepada nama tersebut, berhubung Nabi sendiri pernah bersabda, "Qadariyyah adalah Majusinya kaum Muslimin." Penolakan mereka 
itu dibantah keras oleh firqah Shifatiyyah dengan alasan bahwa Jabariyyah dan Qadariyyah merupakan dua istilah yang saling kontradiktif (tanaaqudl). Bagaimana bisa, tanya mereka, suatu istilah yang kontradiktif diterapkan kepada firqah lain? Dengan mengemukakan hadits, 
selanjutnya kaum Shifatiyyah berpendapat bahwa Qadariyyah adalah penentang taqdir Allah. 

Doktrin-Doktrin Umum Mu'tazilah 

1. Allah Kekal.

    Kekekalan adalah karakteristik-Nya yang khas. Firqah Mu'tazilah menolak
    semua sifat-sifat Allah (yang menurut firqah lain dipandang kekal). Menurut
    mereka, Allah mengetahui ('ilmu), kuasa (qudrah), hidup (hayah) dengan
    dzat-Nya, bukan dengan sifat-sifat-Nya, karena kalau sifat-sifat-Nya
    berdampingan dengan kekekalan-Nya yang merupakan karakteristik-Nya
    yang khas, berarti sifat-sifat itu pun ambil bagian dalam Dzat Allah. (Dalam
    kata lain, Allah mengetahui itu dengan Dzat-Nya, bukan dengan sifat-sifat-           Nya; pent.) Mengenai kalam Allah, mereka berpendapat bahwa kalam Allah
    itu bersifat temporal (tidak eternal) dan diciptakan (makhluk). Ia terdiri dari       suara dan huruf-huruf dan kemudian ia ditulis oleh manusia, dan dengan             demikian berarti Alquran itu makhluk. Lagipula, segala yang bertempat dan
    diciptakan itu dinamakan makhluk dan setiap makhluk pasti akan lenyap             (binasa/tidak kekal). Mereka juga berpendapat bahwa iradah (kehendak)               Allah, mendengar (sama'), dan melihat (bashar) bukanlah merupakan                   kesatuan sifat yang terdapat dalam Dzat Allah. Mereka berbeda lagi                       pendapatnya ketika menerangkan makna-makna sifat dan cara- cara                     wujudnya sifat-sifat itu.  
    Mereka dengan tegas menolak bahwa Allah dapat dilihat dengan mata                   (telanjang) di hari akhir nanti di sorga.Mereka juga menolak kemungkinan           deskripsi apa pun tentang Allah dalam bentuk anthropomorthis, seperti               misalnya, Dia bertempat, berbentuk, berbadan, bergerak, berubah, bergeser,       atau beremosi. Jadi, ayat- ayat Alquran yang mendeskripsikan tentang diri           Allah haruslah ditafsirkan secara metoforis. Begitulah menurut mereka,
    apa yang dimaksud dengan Tauhid. 

2. Manusia Memiliki Kekuasaan untuk Berbuat Baik dan Buruk serta
    Bertanggung Jawab terhadap perbuatan-perbuatannya itu. 
    
    Mereka sepakat bahwa manusia akan mendapatkan ganjaran atau                         siksaan di akhirat nanti semata-mata karena perbuatannya sendiri di dunia         ini. Manusia tidak dapat menyalahkan Allah dalam perbuatan jelek yang dia       lakukan, karena kejahatan, kezaliman, kufur dan dosa tidaklah dinisbatkan         kepada Allah, karena jika Dia menciptakan perbuatan zalim, berarti Ia zalim       sebagaimana Ia menciptakan keadilan, maka Ia pun Adil. Mereka sepakat             bahwa Allah tidak berbuat, kecuali kebaikan dan kebajikan. Dari segi hikmah-     Nya, Dia harus menjaga kemaslahatan para hamba-Nya. Adapun masalah "al-     ashlah dan al-luthf" merupakan perkara yang masih mereka perselisihkan.         Mereka menamakan hal ini dengan "al-'adlu". 

3. Pelaku Dosa Besar Kekal di Neraka jika Tidak Bertaubat. 

    Jika seorang mukmin mati dalam keadaan mamatuhi hukum Allah dan                 bertaubat, dia akan mendapat ganjaran dari Allah dan pahala, sedangkan             pemberian keutamaan adalah sesuatu yang berbeda dari ganjaran dan                 pahala. Tetapi, jika dia mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa-dosa           besar yang dilakukannya, dia akan mendapatkan siksaan yang kekal dari             Allah, meskipun siksaannya itu akan lebih ringan daripada siksaan terhadap       orang kafir. Inilah yang mereka sebut dengan janji dan ancaman (al-wa'du wa     al-wa'iid) dari Allah.

4. Mengenai Wahyu dan Akal 

    Mereka sepakat bahwa pokok-pokok ilmu dan menyukuri nikmat merupakan     hal yang wajib sebelum turunnya wahyu. Manusia juga wajib dengan akalnya     untuk mengetahui perkara yang baik dan buruk. Ia pun wajib melakukan             kebajikan dan menjauhi kejahatan tersebut. Allah memberitahukan kepada         manusia kewajiban-kewajiban tersebut melalui rasul-rasul-Nya sebagai ujian     dan cobaan bagi manusia (trial and probation). 

    Kaum Mu'tazilah sendiri juga berbeda pendapat di antara mereka tentang imamah. Sebagian dari mereka berpendirian bahwa imamah mesti ditetapkan dengan pengangkatan, sedangkan yang lain berpendapat bahwa hal itu harus melalui pemilihan. 

Baca juga: 

Sumber: Sekte-Sekte Islam, Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani

Enter your email address:

Author-rights® by: QH

Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks
notifikasi
close